«

»

Oct 28

Bahaya Nazar

Penafsiran retorika Bilangan 30:1-8

Oleh: Adi Asmara

.

  1. Penulis kitab Bilangan

Pada awalnya penulis merasa kesulitan dalam hal menentukan penulis kitab ini

apalagi dalam Bilangan 30:1 mengindikasikan sepertinya ada pihak yang lain selain Musa yang mencatat kejadian dalam kitab Bilangan, tetapi itu merupakan asumsi pertama dan dengan mempelajari dan menelusuri sejarah kitab ini dari berbagai sudut pandang para teolog dan penulis buku-buku sejarah maka dapat diketahui bahwa penulis kitab Bilangan ini merujuk pada Musa.

Banyak indikasi yang menyatakan bahwa penulis kitab Bilangan ini adalah Musa misalnya, seperti ketika dilihat dari perjalanan kehidupan Musa dari mulai kecil hingga dewasa yang hidup di lingkungan kerajaan Mesir yang cukup terkenal saat itu yang akhirnya mengindikasikan Musa seorang yang berpendidikan dan paling tidak mempunyai pengetahuan tentang wilayah yang ada di sekitar Mesir itu hal, kemudian Musa akhirnya lari ke tanah Midian karena membunuh orang Mesir dan ia tinggal di sana selama 40tahun.

Letak tanah Midian berada di padang gurun Sinai, pengalaman disana membantu Musa ketika menjadi pemimpin bangsa Israel untuk keluar dari tanah Mesir, artinya Musa sangat mengenal daerah tersebut sehingga ini mengindikasikan bahwa Musalah penulis kitab ini.

Menurut tafsiran buku lain juga penulis kitab ini juga Musa dengan bahan penafsirannya adalah (1) dinyatakan dalam kitab Pentateukh Yahudi dan Samaria (2) menurut tradisi Yahudi (3) oleh Yesus dan penulis kitab PB (4) para penulis Kristen kuno (5) para cendekiawan konservatif modern.[1]

 

  1. Tempat penulisan

Kitab ini ditulis dipadang gurun mulai dari gunung Sinai (Bil. 1:2-3), Sinai sebuah wilayah yang terletak ditengah semenanjung antara bagian ujung laut merah, teluk Suez dan teluk Akaha (Kel.16:1 ;Kis. 7:30-38), sebuah gunung, disebut juga gunung Horeb, dimana bangsa Israel menerima sepuluh perintah Allah (Kel. 19:18).

Lokasi tempat ini tidak diketahui dengan pasti, meskipun secara umum disetujui bahwa tempat ini terletak di Sinai tengah, secara tradisional tempat ini disebut Jebel Musa, tetapi kemungkinan yang lain adalah gunug Serbal dan Ras Es-Safsafe.[2]

Ketika Musa melakukan sensus terhadap orang Israel dan Sembilan belas hari kemudian berangkat menuju Kadesy (10:11), Kadesy-Barnea sebuah padang belantara diperbatasan selatan Palestina, tempat ini terletak di perbatasan antara padang gurun Paran di selatan padang gurun Zin diutara dari semenanjung Sinai (Bil. 32:8; 34:4) tempat ini biasa disebut En-Mispat.[3] Ini merupakan perjalanan pendek, dan selanjutnya perjalanan sampai kedataran Moab daerah sungai Yordan,

 

  1. Tokoh yang ada di dalam pasal ini

Jelas dikatakan disana bahwa Allah dan Musalah yang  menjadi tokoh utama dalam

perikop ini,sangat jelas disebutkan bahwa Musa menyampaikan apa yang Allah inginkan kepada umatNya, ini menyatakan bahwa Allah menyatakan langsung firmanNya melalui Musa yang menjadi pemimpin bangsa Israel pada saat itu, sedangkan para tua-tua Isreal dan segenap umat Israel merupakan tokoh yang menjadi obyek dari perintah tersebut.

Jika melihat hal ini maka dapat diambil suatu ajaran bahwa Allah tidak bisa secara langsung berbicara kepada umatNya, bukan karena Allah tidak mampu tetapi ini menjadi gambaran betapa kudusNya Allah itu, hanya orang yang dipilih dan dikuduskan saja yang dapat menerima wahyu itu, sama seperti kejadian-kejadian sepanjang perjalanan sejarah orang Israel yang selalu memiliki nabi sebagai seorang penyambung lidah Allah.

 Penulis menyimpulkan dari penafsiran ini bahwa Allah akan memberikan wahyu khusus bagi setiap orang yang dipanggil untuk melayani Tuhan, inilah salah satu ciri jika seseorang dipanggil dalam ladang pelayanan, selalu Tuhan memberikan visi dan misi.

 

  1. Pokok permasalahan yang timbul

Permasalahan terletak pada kebiasaan orang Israel yang bernazar, antara kaum pria dan

wanita sangatlah berbeda, seorang laki-laki jika bernazar harus ditepati atau dilakukan dan tidak ada yang bisa membatalkan hal tersebut kecuali jika sang laki-laki sudah membayar nazar tersebut (Bil. 30:2), tetapi berbeda dengan seorang perempuan, seorang perempuan jika bernazar bisa dibatalkan oleh seorang laki-laki, apakah itu ayahnya atau jika sudah menikah ialah suaminya (Bil. 30:3-8), dan seorang perempuan jika tidak bisa menepati nazarnya maka yang menanggung adalah ayah atau suaminya.

Maka dapat disimpulkan bahwa seorang laki-laki mempunyai beban yang besar di dalam keluarganya, mengapa demikian karena pada waktu itu sistem kebudayaan yang begitu sangat kental bahwa seorang laki-laki itu sangat berharga sedangkan wanita tidak.

Kehidupan wanita di Israel pada jaman Alkitab memang tidak diperhitungkan, karena disana seorang laki-laki dewasa seperti ayah, suami adalah penanggung jawab keluarga dan berhak menentukan keputusan.

            Bentuk kehidupan keluarga yang patriakhkal (berpusat pada ayah), menetapkan suasana untuk memperlakukan wanita di Israel, misalnya seorang gadis yang dibesarkan untuk mematuhi ayahnya tanpa membantah, kemudian ketika ia menikah ia harus mematuhi suaminya dengan cara yang sama, apabila ia bercerai dan menjadi janda maka ia harus kembali pada ayahnya.[4]

            Bahkan di dalam Imamat 27:1-8 mengatakan dalam konteks membayar nazarpun sudah ada perbedaan yaitu, seorang perempuan membayar setengah dari nilai laki-laki. Ini membuktikan bahwa pada waktu itu laki-laki begitu berharga dibandingkan dengan perempuan.

Dalam konteks budaya orang Israel seorang perempuan dibesarkan hanya untuk menikah dan mempunyai keturunan sehingga mereka tidak akan memikirkan soal karir. Bahkan jika wanita tidak mempunyai anak bisa dikatakan terkutuk (Kej. 30:1,2,22 ).

            Tetapi sebenarnya Alkitab tidak selalu memandang rendah wanita, contoh dalam kitab kejadian bahwa manusia dikatakan segambar dengan Allah, artinya bukan hanya laki-laki saja yang segambar dengan Allah. Allah juga memerintahkan manusia untuk berkuasa atas segala ciptaan, bisa dipahami sejak semula Allah memandang manusia itu sama derajatnya, Bahkan jika dilihat dalam sepanjang Alkitab dari PL sampai PB banyak ayat yang menyatakan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, tetapi semua itu pasti sudah ada aturannya hingga kehidupan menjadi seimbang, seperti tercatat dalam Efesus 5:22-25 bahwa seorang wanita harus tunduk pada laki-laki tetapi laki-laki harus mengasihi wanita seperti dirinya sendiri, ini merupakan hukum yang tidak bisa dibantah, jika tidak dilakukan pasti keluarga akan rusak.

 1. Nazar

Istilah nazar dalam pemikiran bangsa Semit mungkin berasal dari salah satu nama dewa,

kalau memang demikian maka hal itu mengilustrasikan fakta pemakaian “nazar” dalam Alkitab selalu menyebut nama Allah, dan memberikan tafsiran baru untuk bagian-bagian Alkitab seperti Yeremia 32:35 ayat ini tidak berarti mengorbankan anak kepada Molokh, seperti TB, tapi mengorbankan anak sebagai molekh, yaitu sebagai persembahan yang merupakan penggenapan suatu nazar mengenai Hakim-hakim 11:30.[5]

            Didalam buku tafsiran dikatakan, nazar adalah kehendak melaksanakan suatu tindakan (Kej. 28:20) atau menjauhkan diri dari suatu tindakan (Mzm. 22:25), bernazar atau tidak bernazar tidaklah berdosa, tetapi jika nazar itu dikaulkan (diucapkan dengan suara keras) Ulangan 23:21-23, maka ikatan tersebut sama kudusnya dengan sumpah.[6]

Maka dengan demikian jangan mengucapkan nazar dengan  sembarangan (Ams. 20:25), jika seorang bernazar tidak menepatinya maka akan mendatangkan kutuk Allah (Mal. 1:14).

Nazar dalam buku tafsiran dijelaskan bahwa, nazar dilakukan oleh orang laki-laki (Bil. 30:1,2) bukan anak laki-laki, nazar anak dara (ay.3-5), nazar anak dara yang akan kawin (ay.6-8), nazar kaum janda (ay.9), artinya penulis menyimpulkan bahwa nazar dapat dilakukan oleh orang yang sudah dewasa atau akil-balig.[7]

Menurut kamus akil artinya cerdik atau pandai sedangkan balig tahu membedakan baik dan buruk (laki-laki berumur 15 tahun keatas), artinya sudah dewasa didalam mental dan pemikirannya.[8]

Dengan demikian penulis menyimpulkan nazar bisa jadi dipengaruhi oleh budaya bangsa-bangsa sekitar umat Israel, tetapi hal itu sudah menjadi kebenaran bahwa hal itu merupakan suatu ikatan janji kepada Allah atau merupakan korban yang harus dipersembahkan kepada Allah menurut PB.

Mengapa firman ini akhirnya muncul ditengah bangsa Israel, penulis berpikir karena bangsa Israel merupakan bangsa pilihan, jadi harus berbeda dengan bangsa lain, mungkin Allah juga tidak menginginkan umatnya menjadi umat pembohong dengan suka berjanji tapi tidak mau menepati, selain itu Allah tidak menginginkan umatnya itu sombong dengan selalu bernazar. karena melihat bahwa nazar itu dilakukan dengan mengkaulkannya sehingga banyak orang mendengarnya.

Demikian pula yang tertulis dalam buku tafsiran bahwa betapa seriusnya nazar, maka Allah menekankan bahwa ketidak sungguhan, berbohong dan kemunafikan tidak ada tempat di kalangan umat Allah.[9]

Mengapa yang dibebankan nazar ini adalah kaum laki-laki saja karena peranan kaum laki-laki ditengah masyarakat pada waktu itu, dan akibat lain mungkin yang akan dialami seorang yang melakukan nazar yang tidak ditepati adalah cibiran dari umat Israel yang lain karena semua orang telah mendengarkan, inilah tindakan Allah agar tidak terjadi masalah ditengah-tengah umat Israel.

 

  1. Konflik

Adanya konflik yang bakal terjadi cukup didalam keluarga, misalnya jika ada anak gadis

yang tidak mau mematuhi orang tuanya yang dilarang bernazar pasti berakibat keributan dalam keluarga,bahkan terjadi tindakan yang keras terhadap wanita sehingga wanita selalu dalam tekanan karena takut wanita nantinya melakukan kesalahan.

Apalagi jika perempuan  nekat dan tidak bisa membayar nazar, maka laki-laki yang akan bertanggung jawab terkena kutuk, bisa juga orang Israel akan banyak memprotes Musa terutama kaum laki-laki yang mempunyai potensi menerima akibat dari nazar kaum perempuan. Hal ini juga ditegaskan dalam buku tafsiran Alkitab masa kini yang mengatakan bahwa suami yang meniadakan nazar istrinya yang dahulu tidak dilarangnya, maka suami itu yang menerima akibat atau konsekwensinya.[10]

Maka ada juga potensi berbahaya jikalau seorang laki-laki Israel terkena kutuk dari apa yang tidak ia lakukan (karena perbuatan anak perempuan atau isterinya), maka akan timbul sakit hati pada Allah yang seterusnya Allah bisa-bisa menghukum umatnya.

Karena begitu kuat tanggung jawab yang diemban seorang laki-laki, maka dapat diambil suatu pelajaran bahwa seorang laki-laki harus bertanggung jawab penuh terhadap keluarga dan dihadapan Tuhan, laki-laki harus mempunyai pandangan yang jauh kedepan sehingga tidak terjerumus kepada hal-hal yang akan mengakibatkan kesulitan didepan.

 

  1. Nilai-nilai

Allah sangat menghendaki laki-laki menjadi orang yang bertanggung jawab menjadi

pemimpin yang membawa keluarga untuk dekat dengan Allah dan melakukan segala perintah Allah, seorang laki-laki harus bisa menentukan mana yang baik dan mana yang benar, mana yang boleh dilakukan mana yang seharusnya tidak boleh dilakukan, maka keberadaan seorang laki-laki yang menjadi wakil Allah ditengah-tengah keluarga harus berjalan dengan baik jika tidak maka tatanan kehidupan akan berantakan. Demikian juga ditegaskan dalam buku tafsiran bahwa seorang laki-laki Israel atau umat Allah harus bisa berbuat seperti apa yang diucapkan.[11]

Tanggung jawab seorang laki-laki tidak hanya kepada manusia tetapi terlebih kepada Allah, contoh setiap pelanggaran nazar yang dilakukan seorang perempuan yang menanggung adalah seorang laki-laki, Diharapkan seorang ayah mampu mendidik anaknya dengan tepat karena tindakan-tindakan yang dilakukan anak pasti berimbas kapada ayahnya. Demikian juga suami adalah pemimpin keluarga maka suami juga bertanggung jawab atas keluarganya.

 .

Daftar pustaka :

Stamps, Donald C, Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan (Malang: Gandum Mas,  1994).

Thrie, Donald Gu (Editor), Tafsiran alkitab masa kini 1 kejadian-ester, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 2000).

Douglas, J. D. (Penyunting), Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid I M-Z (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1998).

Baxter,  J. Sidlow, Menggali Isi Alkitab 1 Kejadian – Ester (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2000).

Merril, J.I, Packer C. White, Tenney William, Jr.  Ensiklopedi Fakta Alkitab bible almanac~2(Malang: Gandum Mas,  1994).



[1] Donald C,stamps, Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan (Malang: Gandum Mas,  1994), 214.

[2] J.I, Packer, Merril C. Tenney William White, Jr.  Ensiklopedi Fakta Alkitab bible almanac~2

(Malang: Gandum Mas, 2001),  1533.

[3] Ibid., 1494.

[4] Ibid., 865.

[5] J. D. Douglas (Penyunting), Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid I M-Z (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1998), 142.

[6] Ibid., 142

[7]J. Sidlow Baxter, Menggali Isi Alkitab 1 Kejadian – Ester (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2000), 178.

[8] Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi ke-3, (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Balai Pustaka, 2005), 21.

[9]Donald C,stamps, Op. Cit., 264.

[10] Donald Guthrie (Editor), Tafsiran alkitab masa kini 1 kejadian-ester, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 2000), 283.

[11] Ibid., 283.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

     

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current ye@r *